
“Sofiyamsah:… dan do'ain smoga semua siswa MBI pass tes TOEFL nanti di hari Jum'at”,
Pesan singkat yang diposting pada hari Rabu, 26/11 itu sejenak mengingatkanku kepada KH. A. Malthuf Siraj, M.Ag, Pimpinan MANJ. Dalam sebuah rapat koordinasi antara pimpinan dan karyawan beliau pernah menyampaikan keinginan untuk segera merealisasikan program Test of English as a Foreign Language (TOEFL) ini untuk siswa dan guru bahasa Inggris.
Namun waktu itu masih belum diputuskan waktu pelaksanaannya karena mungkin masih banyak program lain yang harus segera didahulukan. Dan lagi, biaya pendaftaran tes yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1964 inipun cukup bisa dikatakan “mewah”, sehingga menjadi alasan tersendiri bagi MANJ untuk terlebih dahulu mensosialisasikan program tersebut kepada siswa dan guru.
TOEFL adalah tes bahasa Inggris yang dirancang untuk mengukur penguasaan bahasa Inggris mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Tes ini dikembangkan dan diselenggarakan oleh Educational Testing Service (ETS), sebuah lembaga nirlaba yang berkedudukan di Amerika Serikat. Jenis tes bahasa Inggris TOEFL ini pada umumnya diperlukan untuk persyaratan masuk kuliah pada hampir semua universitas di Amerika Serikat dan Kanada baik untuk program undergraduate (S-1) maupun graduate (S-2 atau S-3).
Namun seiring dengan meningkatnya tuntutan pendidikan, Hasil tes TOEFL ini juga dipakai sebagai bahan pertimbangan mengenai kemampuan bahasa Inggris dari calon mahasiswa S-2 dan S-3 di Indonesia. Bahkan sertifikat tes yang lebih berorientasi kepada American English tersebut saat ini sudah menjadi persyaratan mutlak bagi siswa pada sekolah-sekolah unggulan di Indonesia yang dikenal dengan istilah Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI).
Kemampuan yang diuji dalam tes TOEFL
Ada tiga bagian tes TOEFL yang harus dikerjakan oleh peserta tes antara lain:
1. Listening Comprehension = 50 soal
2. Structure & Written Expression = 40 soal,
3. Reading Comprehension = 50 soal.
Untuk Paper and Pencil Based TOEFL (soal dengan kertas), seluruh soal ditulis dalam pilihan ganda. Sedangkan untuk Computer Based TOEFL (soal dengan media computer), selain soal pilihan ganda terdapat soal esai yang menguji kemampuan mengarang peserta dalam bahasa Inggris serta variasi lain bentuk soal seperti menjodohkan, meng highlight kata tertentu yang ada kaitannya dengan main idea suatu bacaan, dll. Keseluruhan tes berlangsung dalam waktu kurang lebih 150 menit, untuk Paper and Pencil Based TOEFL, dan kurang lebih 240 menit untuk Computer Based TOEFL.
Hubungan skor yang diperoleh dengan tingkat penguasaan bahasa Inggris seseorang.
Secara umum kita mengenal tiga level penguasaan bahasa asing, yaitu Tingkat Dasar (Elementary), Tingkat Menengah (Intermediate), dan Tingkat Mahir (Advanced). untuk skor TOEFL, para ahli bahasa biasanya mengelompokkan skor ini kedalam empat level berikut ( Carson, et al., 1990):
• Tingkat Dasar (Elementary) : 310 s.d. 420
• Tingkat Menengah Bawah (Low Intermediate) : 420 s.d. 480
• Tingkat Menengah Atas (High Intermediate) : 480 s.d. 520
• Tingkat Mahir (Advanced) : 525 s.d 677
By the way... are you ready to play the game guys?
Go ahead! The future is waiting for you!
HAVE A NICE TEST!
Sumber:
- http://en.wikipedia.org
- other resources
Larry Page dan Sergey Brin, dua orang penemu raksasa mesin pencari Google ini mungkin akan menggaruk-garuk kepala seandainya mengetahui kejadian yang dialami Mia, 16, dan Sasa, 17, (bukan nama asli). Pada selasa (8/7) dua siswa yang masih di kelas X di salah satu program Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) Paiton Probolinggo tersebut dikenai sanksi harus menyusun kembali tugas makalah yang sudah
mereka buat sejak sebulan yang lalu.
“Makalah kita hasil googling, Pak,” begitulah jawaban mereka setelah saya mencoba bertanya penyebabnya.
Peristiwa yang dialami Mia dan Sasa hanyalah sekelumit cerita dari berjuta peristiwa serupa yang terjadi di negeri ini. Mesin pencari Google yang mulai beroperasi resmi tahun 1998 ini telah membuat pelajar maupun mahasiswa cenderung berpikir pragmatis ketika mereka diberi tugas makalah oleh guru atau dosen.
Kalimat don't be evil yang menjadi salah satu slogan Google ini seakan tak lagi menakutkan bagi mereka. Hal ini karena fasilitas yang disediakan cukuplah menjadi solusi praktis dibandingkan dengan harus mencari data dari tumpukan buku di perpustakaan.
Secara global, langkah preventif terhadap penyalahgunaan fasilitas internet ini sebenarnya sudah pernah menjadi berita hangat ketika Geert Wilders, seorang politisi Belanda secara resmi memublikasikan film dokumenter Fitna garapannya pada 28 Maret 2008. Film yang berdurasi 17 menit ini sangatlah melukai hati umat beragama sehingga Menkominfo Mohammad Nuh DEA menyatakan pemerintah akan memblokir situs berbagi video Youtube -yang resmi menjadi salah satu anak perusahaan Google pada 9 Oktober 2006- dan situs-situs porno mulai April hingga Mei 2008.
Sayangnya, keputusan pemerintah itu seakan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Indonesia untuk lagi-lagi meng-googling video itu.
Budaya “googling” yang berasal dari kata Google yang oleh Oxford English Dictionary diartikan menggunakan mesin pencari Google untuk memperoleh informasi di internet, seakan sudah menjadi teman setia bagi para netter (pengguna internet). Bahkan salah satu browser terkenal seperti Mozilla Firefox sudah mengintegrasikan mesin pencari yang berbasis di Mountain View, California, ini dalam salah satu produknya.
Filosofi Google yang sangat terkenal adalah never settle for the best yang mungkin
bisa diartikan diam berarti mati. Kalimat ini memiliki konotasi positif sebagai stimulasi belajar peserta didik kita dan tentunya juga untuk kita sebagai pendidik agar tidak tinggal diam terhadap segala perilaku menyimpang dalam aktivitas peserta didik di dalam dunia maya. Jadi don't be evil dan terima kasih Google.
Buku Tamu
Categories
- Artikel (2)
- Hot News (6)
- Refleksi (7)
- Software Gratis (1)
- Tip dan Trik (1)
